Minggu, 15 Januari 2012

It really monkey money


Arriving in Jakarta, the capital of the Republic of Indonesia can be seen for the first time is filled with traffic or in other words, traffic jams have become a routine part of ± 8-9 million migrant workers that make Jakarta as the economic center.

Jakarta, with a population density is no longer providing welfare for migrant workers to ensure that the social impact is not just for the kind of education that do not work.

In general, poverty is defined as the condition which is not a person or group of individuals capable of fulfilling their fundamental rights to maintain and develop a life of dignity. A very broad definition that poverty is multidimensional problem, which is why it is not easy to measure poverty and the need for an agreement of measurement used. (Source BPS Jakarta. 2011)

Almost all works have been fulfilled and they no longer provide many opportunities for working class workers, but it also suggests that Jakarta is not a city that is friendly to the newcomers, although perhaps the original inhabitants. You can see how the Jakarta traffic is more and more jammed and the costs of the cause to be larger by a single worker to reach their place of work.

Means of transport are not yet handled properly to make all the rules on transport as rules stay rules, but did not show a clear improvement in their direction. Policies of local governments which are less favourable environment joins the poor of this city, as the poor drainage, or not traders "
kaki lima"(illegal traders) location, in addition to telecommunications across peer teams main roads and others

With the offer of knowledge to be able to conquer Jakarta alone is not enough to earn revenues that could make the happier life. Still needs another skill that can be supported to achieve a good income, as Jakarta, with a level of high density of the basic needs of high-impact for its citizens

Stevedoring employee (source: vivanews.com Saturday, August 6, 2011) assumes that wages are very small, because only paid Rp73 thousand per shift or the equivalent of $. 7 United States. It's not as if the employee, to buy food for yourself, as this may be given to his family. Different types and methods to earn income from persons seeking work as an employee of a public authority or private course, which is supported by an adequate education.

And how do who have no education? The road to take is to create jobs or to use these skills, motorcycle, using motorcycles as a means of transport of passengers, workers, became an artist, or the use of animals as supplementary feeding for recycling money.

If passes the General Sudirman Street before is Games was officially opened in October 2011, the main street in Jakarta in the afternoon around 15: 00-18: 00 in the direction towards the Block M from Pulo Gadung Bus Terminal clover in front of the structure of the bridge on the sidewalk along the way you will be presented with a small show in which a young people and even children with the help of a team of oil in addition to music Mono tape voice command to give a monkey to act according to the address that gave you.

Behavior of the animals who have been trained monkeys to use their equipment for performe and remain shackled by their owners, and handed me a wrapper of empty plastic for pedestrians and cyclists and cars shed 10 cents coin to change who has shown the ability of the monkey.

A monkey without apparent hours of work have given power to his master in exchange for fruits or vegetables, as a reward for giving money to his master. And a monkey could feed a family, because it is usually a child that is automatically converted on your computer at work will give money to their parents.

So you can imagine a monkey as a cash cow for at least 2-3 people who care. When Jakarta as a metropolitan area there are dozens or even hundreds of monkeys trained monkeys as the animals were destined to feed to a few tens or even hundreds of people who depend on income from monkeys, but this is not an investigation of it. It is unique in achieving the right to live life in Jakarta and the monkeys that fight for himself, also fought for the man who chained the setting that says that it is really the monkeys of money,

Jumat, 18 November 2011

Disabilitas dan Stigma Pandangan Masyarakat

Sebagai seorang Ibu ketika melihat bayi yang dilahirkan tidak normal secara phisik hal pertama yang terbersit dalam pikiran adalah “oh Tuhan mengapa demikian” bahkan tidak sedikit pula yang pada akhirnya merasa malu dan berusaha untuk tidak diketahui umum, pada akhirnya anak menjadikan beban dalam kehidupannya. Demikian pula dalam pandangan masyarakat modern hidup adalah sebuah kesempurnaan dalam segala hal termasuk didalamnya secara materi maupun secara sosial. terlebih ada sebuah pandangan makin lengkap segala kebutuhan bisa terpenuhi dan tingkat sosial yang semakin eksklusif akan membuat strata sosial semakin tinggi namun pandangan demikian masih terlalu dini untuk diambil sebagai kesimpulan akhir.

Adalah kaum disabilitas dan pandangan masyarakat yang sampai saat ini masih harus memperjuangkan nasibnya untuk memperoleh kedudukan yang sama di masyarakat umum, pandangan negative dari masyarakat ini tidak bisa dipungkiri hal ini karena ada sebagaian masyarakat normal memandang kaum disabilitas atau difabel sebagai bahan “olokan” dan ada pula kaum disabilitas atau difabel menggunakan kekurangan phisik untuk memperoleh belas kasih sebagaimana terlihat di jalanan meskipun ini hanya sebagaian kecil saja namun stigma negative sudah terlanjur menjadi stigma umum.

Dan apakah mereka yang dikatakan sebagai disabilitas atau difabel juga memilik pandangan yang sama dengan masyarakat normal? Ternyata tidak demikian dari beberapa pengamatan lewat media sosial seperti TV, Koran maupun alat komukasi lain menunjukkan bahwa kaum disabilitas bisa memberikan kontribusi lebih bahkan bisa dikatakan melebih kaum normal meskipun mereka memiliki keterbatasan baik secara phisik maupun mental.

Nicholas James Vujicic  atau dikenal dengan Nick Vujicic seorang International Motivational Speaker dari Australia bisa dikatakan sebagai disabilitas atau difabel akut karena tidak memiliki kaki dan tangan namun telah menunjukkan kematangan dan keahliannya sebagai pemberi semangat yang justru banyak diberikan untuk kaum normal. Kekurangan bukan lagi menjadi kendala dalam beraktifitas maupun bersosialisai namun menjadi pelengkap dalam bermasyarakat.   Mungkin pernah dengar atau melihat di layar kaca melalui tayangan Kick Andy beberapa kali menampilkan tokoh penyandang disabilitas atau difabel yang berhasil mengatasi kekurangannya dan menjadi tokoh patut ditelandani salah satunya Sugeng disabilitas kaki yang akhirnya sukses sebagai pengusaha pembuatan kaki palsu, dan dalam kehidupannya selalu memberikan optimisme kepada siapa saja termasuk masyarakat normal.

Satu lagi perjuangan kaum disabilitas atau difabel Indonesia yang karena kemampuannya dan perjuangannya telah memperoleh hak-haknya yang diwujudkan dalam pembahasan RUU tentang Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas oleh DPR-RI. Inilah betapa mereka kaum disabilitas atau difabel tidak perlu dikasihani namun mereka lebih suka dianggap sebagai bagian dari masyarakat umum yang juga memiliki hak-hak dan martabat yang sama, meskipun mereka sadar bahwa ini semua masih membutuhkan perjuangan yang panjang. http://www.kartunet.com

Banyak contoh telah diberikan oleh kaum disabilitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di negara ini tentunya telah membuka masyarakat normal untuk bisa memberikan tempat dan tidak memandang mereka sebagai kekurangan namun lebih dari itu adalah memberikan pandangan yang seimbang dan tidak membedakan mereka di masyarakat.

Perkembangan masyarakat sekarang terhadap kaum disabilitas atau difabel sedikit banyak telah berubah disebabkan oleh sikap pantang menyerahkan maupun ketrampilan yang tidak dimiliki masyarakat normal umumnya, menyimak informasi beberapa waktu lalu lewat media cetak maupun internet kompas.com 21 September 2011 salah satunya dibuka lowongan khusus untuk kaum disabilitas dan karena kekhususannya inilah yang menjadikan kaum disabilitas menjadi istimewa, dari sini bisa dikatakan bahwa penerimaan masyarakat normal tidak lagi memandang kekurangan phisik sebagai bentuk kekurangan namun lebih sebagai penghargaan untuk bisa berjalan seiring sejalan.

Organisasi-organisasi yang telah ada baik dari pemerintah maupun non pemerintah bertujuan untuk pemberdayaan kaum disabilitas atau difabel di Indonesia menunjukkan sekali lagi bahwa mereka telah berani menampilkan diri apanya sehingga tidak lagi menjadi beban di masyarakat. Karya-karya para disabilitas atau difabel sebagaimana telah bersanding dengan karya masyarakat umum menjadikan lebih banyak pilihan dan beragam serta prestasi yang pada akhirnya memberikan keuntungan untuk seluruh elemen masyarakat.

Belum lagi penemuan-penemuan inovasi yang kalau ditelusuri ternyata ditemukan oleh kaum disabilitas atau difabel seperti terori “Big Bang-nya” Prof Stephen Hawking dari Inggris dan banyak lagi penemuan-penemuan dari mereka yang telah mendunia dan bisa diterima oleh masyarakat umum, ini adalah salah satu bukti betapa mereka telah berkarya di antara masyarakat umum yang tidak lagi melihat kekurangan phisik atau disabilitasnya sebagai kekurangan yang harus dijauhkan namun lebih sebagai bentuk perhargaan yang sesungguhnya. http://www.kartunet.com

Inilah harapan masyarakat dan mungkin para kaum disabilitas atau difabel bisa saling memberikan kelebihan dan menutupi kekurangannya sebagai ungkapan syukur bahwa disabilitas atau difabel bukan lagi menjadi hal yang harus ditakuti tapi lebih menjadi kekuatan baru untuk membangun masyarakat yang lebih baik dan membuang stigma negative terhadap kaum disabilitas atau difabel karena sebagaimana Tuhan menciptakan mahlukNya agar manusia saling belajar dari segala perbedaan yang ada dan bukan mempertajam perbedaan melainkan perbedaan harus disikapi secara arif karena demikianlah sesungguhnya alam ini berjalan. http://www.kartunet.com


Rabu, 16 November 2011

inspiration



In pleasant conditions friend or friends will be a pleasant place, and conditions that can make us happy or unhappy. why because certain things sometimes passes the limits in our thinking.

So to get a lasting friendship that we have to be clever to care for and maintain the situation.